Sesungguhnya Allah Mengasihi Orang Yang Berjuang di JalanNya...


6/24/2009 10:06:00 PM



AISYAH Binti ABU BAKAR r.a
Istri - istri Rasulullah SAW


--------------------------------------------------------------------------------

Rasulullah SAW membuka lembaran kehidupan rumah tangganya dengan Aisyah r.a yang telah banyak dikenal. Ketika wahyu datang pada Rasulullah SAW, Jibril membawa kabar bahwa Aisyah adalah istrinya didunia dan diakhirat, sebagaimana diterangkan didalam hadits riwayat Tirmidzi dari Aisyah r.a, " Jibril datang membawa gambarnya pada sepotong sutra hijau kepada Nabi SAW, lalu berkata.' Ini adalah istrimu didunia dan di akhirat." Dialah yang menjadi sebab atas turunnya firman Allah SWT yang menerangkan kesuciannya dan membebaskannya dari fitnah orang-orang munafik.

Aisyah dilahirkan empat tahun sesudah Nabi SAW diutus menjadi Rasul. Semasa kecil dia bermain-main dengan lincah, dan ketika dinikahi Rasulullah SAW usianya belum genap sepuluh tahun. Dalam sebagian besar riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW membiarkannya bermain-main dengan teman-temannya.

Dua tahun setelah wafatnya Khadijah r.a datang wahyu kepada Nabi SAW untuk menikahi Aisyah r.a. Setelah itu Nabi SAW berkata kepada Aisyah, " Aku melihatmu dalam tidurku tiga malam berturut-turut. Malaikat mendatangiku dengan membawa gambarmu pada selembar sutra seraya berkata,' Ini adalah istrimu.' Ketika aku membuka tabirnya, tampaklah wajahmu. Kemudian aku berkata kepadanya,' Jika ini benar dari Allah SWT , niscaya akan terlaksana."

Mendengar kabar itu, Abu Bakar dan istrinya sangat senang, terlebih lagi ketika Rasulullah SAW setuju menikahi putri mereka, Aisyah. Beliau mendatangi rumah mereka dan berlangsunglah pertunangan yang penuh berkah itu. Setelah pertunangan itu, Rasulullah SAW hijrah ke Madinah bersama para sahabat, sementara istri-istri beliau ditinggalkan di Makkah. Setelah beliau menetap di Madinah, beliau mengutus orang untuk menjemput mereka, termasuk didalamnya Aisyah r.a.

Dengan izin Allah SWT menikahlah Aisyah dengan mas kawin 500 dirham. Aisyah tinggal dikamar yang berdampingan dengan masjid Nabawi. Dikamar itulah wahyu banyak turun, sehingga kamar itu disebut juga sebagai tempat turunnya wahyu. Dihati Rasulullah SAW, kedudukan Aisyah sangat istimewa, dan tidak dialami oleh istri-istri beliau yang lain. Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dikatakan, " Cinta pertama yang terjadi didalam Islam adalah cintanya Rasulullah SAW kepada Aisyah r.a."

Didalam riwayat Tirmidzi dikisahkan "Bahwa ada seseorang yang menghina Aisyah dihadapan Ammar bin Yasir sehingga Ammar berseru kepadanya,' Sungguh celaka kamu. Kamu telah menyakiti istri kecintaan Rasulullah SAW." Sekalipun perasaan cemburu istri-istri Rasulullah SAW terhadap Aisyah sangat besar, mereka tetap menghargai kedudukan Aisyah yang sangat terhormat. Bahkan ketika Aisyah wafat, Ummu Salamah berkata, 'Demi Allah SWT, dia adalah manusia yang paling beliau cintai selain ayahnya (Abu Bakar)'.

Di antara istri-istri Rasulullah SAW, Saudah bin Zum`ah sangat memahami keutamaan-keutamaan Aisyah, sehingga dia merelakan seluruh malam bagiannya untuk Aisyah.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Aisyah sangat memperhatikan sesuatu yang menjadikan Rasulullah SAW rela. Dia menjaga agar jangan sampai beliau menemukan sesuatu yang tidak menyenangkan darinya. Karena itu, salah satunya, dia senantiasa mengenakan pakaian yang bagus dan selalu berhias untuk Rasulullah SAW. Menjelang wafat, Rasulullah SAW meminta izin kepada istri-istrinya untuk beristirahat dirumah Aisyah selama sakitnya hingga wafat. Dalam hal ini Aisyah berkata, "Merupakan kenikmatan bagiku karena Rasulullah SAW wafat dipangkuanku."

Bagi Aisyah, menetapnya Rasulullah SAW selama sakit dikamarnya merupakan kehormatan yang sangat besar karena dia dapat merawat beliau hingga akhir hayat. Rasulullah SAW dikuburkan dikamar Aisyah, tepat ditempat beliau meninggal. Sementara itu, dalam tidurnya, Aisyah melihat tiga buah bulan jatuh ke kamarnya. Ketika dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, Abu Bakar berkata, "Jika yang engkau lihat itu benar, maka dirumahmu akan dikuburkan tiga orang yang paling mulia dimuka bumi." Ketika Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar berkata, "Beliau adalah orang yang paling mulia diantara ketiga bulanmu." Ternyata Abu Bakar dan Umar dikubur dirumah Aisyah.

Setelah Rasulullah SAW wafat, Aisyah senantiasa dihadapkan pada cobaan yang sangat berat, namun dia menghadapinya dengan hati yang sabar, penuh kerelaan terhadap taqdir Allah SWT dan selalu berdiam diri didalam rumah semata-mata untuk taat kepada Allah SWT.

Rumah Aisyah senantiasa dikunjungi orang-orang dari segala penjuru untuk menimba ilmu atau untuk berziarah kemakam Nabi SAW. Ketika istri-istri Nabi SAW hendak mengutus Ustman menghadap khalifah Abu Bakar untuk menanyakan harta warisan Nabi SAW yang merupakan bagian mereka, Aisyah justru berkata, "Bukankah Rasulullah SAW telah berkata, 'Kami para nabi tidak meninggalkan harta warisan. Apa yang kami tinggalkan itu adalah sedekah."

Dalam penetapan hukum pun, Aisyah kerap langsung menemui wanita-wanita yang melanggar syariat Islam. Didalam Thabaqat, Ibnu Saad mengatakan bahwa Hafshah binti Abdirrahman menemui Ummul Mukminin Aisyah r.a. Ketika itu Hafshah mengenakan kerudung tipis. Secepat kilat Aisyah menarik kerudung tersebut dan menggantinya dengan kerudung yang tebal.

Aisyah tidak pernah mempermudah hukum kecuali jika sudah jelas dalilnya dari Al Qur`an dan Sunnah. Aisyah adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah SAW sehingga banyak menyaksikan turunnya wahyu kepada beliau. Aisyah pun memiliki kesempatan untuk bertanya langsung kepada Rasulullah SAW jika menemukan sesuatu yang belum dia pahami tentang suatu ayat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ia memperoleh ilmu langsung dari Rasulullah SAW. Aisyah termasuk wanita yang banyak menghapalkan hadits-hadits Nabi SAW, sehingga para ahli hadits menempatkan dia pada urutan kelima dari para penghapal hadits setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik dan Ibnu Abbas.

Dalam hidupnya yang penuh dengan jihad, Sayyidah Aisyah wafat pada usia 66 th, bertepatan dengan bulan Ramadhan,th ke-58 H, dan dikuburkan di Baqi`. Kehidupan Aisyah penuh dengan kemuliaan, kezuhudan, ketawadhuan, pengabdian sepenuhnya kepada Rasulullah SAW, selalu beribadah serta senantiasa melaksanakan shalat malam. Selain itu, Aisyah banyak mengeluarkan sedekah sehingga didalam rumahnya tidak akan ditemukan uang satu dirham atau satu dinar pun. Dimana sabda Rasul, "Berjaga dirilah engkau dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma." (HR. Ahmad )

Dikutip dari: Amru Yusuf/ Istri Rasulullah, contoh dan teladan.

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia




KUALA LUMPUR 27 Mei - Sekumpulan ahli akademik dan profesional sudah memulakan kajian terhadap cadangan kerajaan untuk mengehadkan jumlah subjek yang boleh diambil pelajar dalam peperiksaan Sijil Pelajaran Malaysia (SPM).
Timbalan Menteri Pelajaran, Datuk Dr Wee Ka Siong berkata, kajian itu yang dijalankan atas arahan Timbalan Perdana Menteri dan Menteri Pelajaran, Tan Sri Muhyiddin Yassin pada minggu lepas, akan melibatkan semua aspek.
"Kita kena ambil kira semua dan melihatnya dari semua dimensi. Bagaimana kita membandingkan tahap kecemerlangan pelajar dalam hal ini?
"Adakah dapat 21 A itu cemerlang, tetapi yang skor A dalam semua sembilan matapelajaran yang diambil oleh seorang lagi pelajar tidak pula cemerlang? Kalau dia cemerlang sebab ambil banyak matapelajaran yang bertindih, tidak bawa apa-apa maknanya," katanya.
Beliau berkata demikian kepada pemberita selepas melancarkan Program Pelatih Jurukur Bahan Kolej Tunku Abdul Rahman-Gamuda di sini, hari ini.
Wee berkata, kementerian juga sedang menjalankan kajian kenapa ada pelajar yang mahu mengambil banyak subjek dalam SPM dan tujuan mereka berbuat demikian. - BERNAMA




KUALA LUMPUR, 6 April (Hrkh) - Peralihan kuasa yang berlaku dalam pemilihan Umno baru-baru ini bukanlah indikator yang efisyen bagi merubah parti itu.
Iklan




Sebaliknya ramai melihat Umno/BN masih tidak berubah dan parti itu tidak berkemampuan menawan kerusi Bukit Gantang dalam pilihan raya kecil ini akibat parti itu gagal berubah sepenuhnya.

Walaupun dengan kemasukan bekas Presiden, Tun Dr Mahathir Mohamad ke pangkuan Umno semula, parti itu masih belum dapat diterima atau diyakini oleh rakyat, kata Ketua Pemuda PAS Negeri Sembilan, Mohd Taufek Abdul Ghani.

"Kemasukan semula Mahathir tidak akan mendatangkan kesan kepada corak kepimpinan Umno yang dilihat semakin terdesak memenangi hati rakyat dan bukannya satu ancaman kepada Pakatan Rakyat," katanya yang juga Adun Paroi.

"Penyertaan semula Tun Mahathir dalam Umno bukan ancaman kepada Pakatan Rakyat khususnya PAS memandangkan ketika beliau meninggalkan Umno dahulu, tiada pihak yang memintanya menarik balik hasrat berkenaan malah turut mengutuknya.

"Sekejap keluar dan kemudian masuk parti adalah lumrah bagi pemimpin Umno kerana mereka tidak mempunyai pendirian tetap dan jati diri telus dalam perjuangan membela hak rakyat," tegasnya.

Baginya, generasi muda tidak akan melihat ini satu perubahan, dan peralihan kuasa yang berlaku dalam Umno tidak akan mendatangkan kesan kepada parti yang hampir karam itu,

Menyentul hal yang sama, Pensyarah Sains Politik, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Dr Nidzammuddin Sulaiman dalam satu ulasan pada akhbar harian berkata, dari sudut pandangan luar parti terbesar itu dilihat masih berada di takuk lama.

Orang ramai, pengundi luar, pertubuhan bukan kerajaan (NGO) dan masyarakat sivil memberi andaian Umno tidak pernah berubah sepenuhnya serta ragu parti itu akan pulih, katanya.

Beliau melihat, seolah-olah Umno hanya pulih di kalangan ahli parti mereka sahaja, walau bagaimana pun orang luar masih mengaitkan pemimpin mereka dengan politik wang.

Hal ini kata Taufek akan memberi kesan kepada pengundi pada pilihan raya Bukit Gantang. - MKS._

4/02/2009 10:19:00 PM


Beberapa cadangan bahan bacaan asas untuk pembinaan thaqafiyah dan ruhiyyah para mujahidah zaman ini:


Pertama : Aqidah

Al-Aqaid Hassan al-Banna
Allah Fil Aqidatil Islamiyah Hassan al-Banna
Allah Sai’d Hawwa
Ar-Rasul Sai’d Hawwa
Aqidatul Muslim Muhammad al-Ghazali
Haqiqatut Tauhid Yusuf al-Qaradhawi
Al-Iman Walhayat Yusuf al-Qaradhawi


Kedua: Fiqh al-Ibadat
Fiqhus Sunnah Sayyid Sabiq
Ta’lim Taharah Wassolah Hassan Ayyub
Fiqhun Nisa’ Fi azzakat wassiam Muhammad Atiyah Khamis
Mau`izatul Mu`minin Al-Allamah al-Qasimi
Ibadatu fil Islam Yusuf al-Qaradhawi

Ketiga: al-Quran dan Tafsir
Kalimat al-Quran Hasanain Makhluf
At-Tibyan fi Hamlati al-Quran Imam Nawawi
Fi Zilal al-Quran Said Qutub
Tafsir al-Al-Quran al-`azim Ibnu Kathir
Ta
fsir Surah al-Fatihah Hassan al-Banna

Keempat: Hadith Nabawi
Riyadus Salihin Imam Nawawi
Al-Arba`in an-Nawawiyah Imam Nawawi

Kelima: Sirah Nabawiyah
Fiqh as-Sirah Muhammad al-Ghazali
Ar-Rasul (2 juzuk) Sai’d Hawwa
As-siratun Nabawitah-Durus Wa `Ibar Mustafa Sibai’e


Keenam: Akhlak, Tarbiyah, dan Tasauf
Tarbiyatuna Ruhiyah Sai’d Hawwa
At-tarbiyah ar-Ruhiyyah Ali Abdul Halim Mahmud
Ruhaniyah ad-Da’iyah Abdullah Nasih Ulwan
Ihya’ Ulumuddin Imam Al-Ghazali
Jundullah Akhlaqan wa saqafatan Sai’d Hawwa
Tarbiyatul Awlad (2 juzuk) Abdullah Nasih Ulwan
Akhlaquna al-Ijtimaiyah Mustafa as-sibai’e


Ketujuh: Harakiah dan Semasa
Hadirul al-Alami Islami Syakib Araslan
Harakat wa Mazahib fi Alami al-Islami Fathi Yakan
Usul Dakwah Abdul Karim Zaidan
Kaifa Nad`uu ilal Islam Fathi Yakan
Silsilah Fiqh Dakwah Abdullah Nasih Ulwan
*buku-buku fiqh dakwah Mustafa Masyhur











4/02/2009 10:17:00 PM
4/02/2009 10:15:00 PM

Penglibatan muslimah di dalam gerakan dakwah adalah merupakan sesuatu yang tidak dapat dinafikan lagi. Contoh yang dibuktikan oleh muslimah yang terdahulu seperti saiyidatina Khadijah binti Khuwailid sebagai manusia pertama yang menyahut seruan Iman dan Islam, saiyidatina Aisyah sebagai gedung ilmu dan pusat sumber maklumat, Ummu Ammarah Nusaibah binti Ka'ab yang bermati-matian di medan Uhud dan Sumaiyah Ali Yaasir sebagai orang yang pertama mendapat gelaran syahid adalah bukti yang jelas bahawa peranan muslimah adalah jauh lebih luas dari hanya sekadar beroperasi di dalam rumahnya.

Fenomena yang mengancam pemikiran ramai manusia dalam memisahkan peranan muslimah di dalam medan perjuangan Islam adalah merupakan sebahagian dari gejala rawathib al jahiliyyah (karat-karat jahiliyyah) dan juga rawathib al isti'mariyah (karat-karat penjajahan) yang begitu dominan di seluruh pelusuk dunia Islam. Akibat dari gejala ini, salah faham terhadap Islam berlaku dan Islam ditohmah sebagai satu ajaran agama yang menindas dan memperlekehkan kaum wanita.
Sifat Islam sebagai Deen ul Fitrah (agama fitrah) yang datang untuk menjadi panduan kepada manusia samada lelaki mahupun perempuan adalah merupakan satu bukti yang nyata bahawa tanggungjawab sebagai khalifah Allah di atas muka bumi ini dipikul bersama oleh muslimin dan muslimat. Kebanyakan perintah-perintah yang terdapat di dalam Al-Quran adalah bersifat umum yang merangkumi lelaki dan perempuan dan Islam tidak sama sekali pun membezakan antara mereka dari segi tanggungjawab di atas muka bumi mahu pun pembalasan di akhirat nanti.

Setelah kita berusaha untuk membentuk diri kita dengan sesempurna mungkin untuk memikul tanggungjawab ini, setiap individu muslimah mestilah berusaha untuk memanggil ke arah perlaksanaan cita-cita Iman dan Islam tadi ke dalam realiti. Keindahan dan kesempurnaan Islam tidak akan terbukti kalau hanya setakat teori dan cita yang tidak dicernakan ke dalam waqi' (realiti). Tugas mencernakan ajaran Islam dan mengajak manusia bersama untuk beriman inilah yang dikenali sebagai da'wah.
Di dalam konteks da'wah, di sana ada 3 marhalah (peringkat) yang mesti dilalui untuk menjamin keberkesanan usaha yang dilakukan. Marhalah2 tersebut adalah marhalah ta'rif (pengenalan), marhalah takwin (pembentukan), marhalah tanfiz (perlaksanaan). Di sini kita akan cuba menghuraikan peranan muslimah sebagai da'ieah dalam mengisi ketiga-tiga marhalah tadi.
1. Marhalah takrif

Yang dimaksudkan sebagai ta'rif adalah pengenalan dalam konteks penyediaan individu muslimah yang faham, beramal dengan apa yang difahaminya dan seterusnya berjihad dan beristiqamah pula dalam jihadnya. Untuk mengisi tuntutan ini maka hendaklah setiap muslimah tadi berusaha untuk:
1.1) Melahirkan insan yang bertaqwa kepada Allah azza wa jal dengan pembentukan iman dan aqidah yang benar. Proses ini berlaku apabila muslimah tadi berusaha dan bersungguh dalam ibadat dan hubungannya dengan Allah azza wa jal melalui ibadat dan ketaatan seperti yang telah diwajibkan.
1.2) Melahirkan insan yg faham akan konsep Iman dan Islam yg menyeluruh sepertimana firman Allah azza wa jal:
"Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam sepenuhnya dan janganlah kamu mengikut jejak-jejak syaitan". Surah Al Baqarah ayat 208.
1.3) Melahirkan insan yang memiliki as syakhsiyah al islamiyyah (personaliti sebagai seorang Muslim) yg contoh ikutannya adalah Rasulullah SAW. Syakhsiyah ini adalah berbentuk kamil wa mutakamil (lengkap lagi melengkapi) dan setiap penda'wah hendaklah menyedari bahawa kita sekarang sedang membawa risalah dan setiap gerak geri kita adalah diperhatikan. Pastikanlah bahawa syakhsiyah kita tadi tidak akan menimbul fitnah terhadap Islam yang hendak kita bawa dan tarbiyyah yang sedang kita lalui.
2. Marhalah Takwin
Setelah menjalani proses ta'rif, muslimah hendaklah berpindah pula kepada marhalah takwin. Di dalam marhalah ini mad'u (mereka yang dida'wahkan) hendaklah dibawa mengenali konsep amal jamaie (beramal dan bergerak dalam bentuk jamaah). Islam tidak pernah dan tidak akan dapat ditegakkan oleh individu atau pengasingan diri dari masyarakat. Individu tadi hendaklah memiliki dan mengujulkan intima' dan iltizam (commitment) yang menyeluruh terhadap Islam, da'wah dan harakah Islamiyyah (gerakan Islam).
Dalam peringkat ini hendaklah dibentuk sifat masuliyah fardiyah (tanggungjawab) yang tinggi. Masuliyah ini adalah masuliyah yang melahirkan sifat muraqabah (merasakan bahawa Allah sentiasa memerhatikannya) yang akan mengakibatkan individu tadi jujur pada dirinya, jujur pada Allah dan jujur pada perjuangan yang didokonginya. Kita tidak mahu dalam marhalah ini akan timbul permasalahan furu' (cabang) dibawa menjadi isu yang mengakibatkan kita menjadi golongan al mutasaqitin (golongan yang gugur).
Dalam marhalah ini keujudan baitul muslim (rumah tangga Islam) sebagai nucleus terpenting dalam gerakan Islam adalah merupakan satu tuntutan. Muslimah berperanan untuk memastikan rumahtangganya hidup dalam suasana Islam dalam semua aspek. Dalam hubungan ini Muslimah berperanan untuk menjadi zaujah as solehah (isteri yang solehah), yang taat dan pendorong utama kepada perjuangan Islam suaminya dan juga berperanan besar untuk memastikan tarbiyatul aulad (pendidikan anak-anaknya) berjalan dalam suasana yang Islamik.
3. Marhalah Tanfiz
Marhalah ini adalah marhalah yang terpenting yang merupakan ujian sebenar terhadap commitment seseorang muslimah terhadap pengisian dan kefahamannya terhadap Islam. Islam yang hanya sekadar diteorikan tidak akan mendatangkan sebarang hasil. Dalam marhalah ini, 3 unsur utama yang harus diperhatikan adalah:
3.1 Al Iman al 'amiq: Iman yang mendalam.
3.2. Tanzim ad daqiiq: Penyusunan organisasi gerak kerja yang teratur lagi menyeluruh.
3.3. Al amal mutawasil: Kerja dan komitmen yang dibuat berterusan dan bukan hanya kerana masa yang tertentu, kawan atau suasana.
Dalam marhalah ini, muslimah tidak lagi dapat menyendirikan diri untuk membawa risalah Islam. Panduan Al Quran dengan jelas memerintahkan pejuang Islam untuk berada dalam satu saf yang tersusun rapi:
"Sesungguhnya Allah mengasihi mereka yang berjuang di jalanNya dalam satu saf seolah-olah batu-bata yang tersusun rapi..." AS SAFF: 3.
Marhalah ini mengajak muslimah untuk keluar di tengah-tengah medan dan bersama mengangkat panji-panji Islam untuk ditegakkan di tengah-tengah kejahilan ummah.
Marhalah ini adalah marhalah muwajahah (berdepan) dengan realiti perjuangan da'wah yang akan mengajak kepada pengorbanan yang sebenarnya. Tidak ada di sana sebarang perjuangan yang tidak ada pengorbanan. Pengorbanan dalam da'wah adalah terlalu luas dan banyak bidangnya yang mengajak kita untuk mengurus dan mentadbir diri kita ini dengan sebaik-baik tanzim.
Penutup
Setelah kita melihat segala tuntutan ini dengan jelas menunjukkan bahawa tanggung jawab yang ada di bahu kita adalah lebih banyak dari kemampuan yang kita miliki, maka dengan demikian hadith Rasulullah SAW: "Ilzim jama'tul muslimin wa imamahum"; Lazimkanlah diri kamu dengan jemaah Islam dan Imam (pimpinan) mereka, adalah merupakan satu komitmen yang jelas mengajak kita semua untuk bersatu bersama jemaah.
Ikrar sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanya kerana Allah akan hanya teruji kalau kita bersama dengan harakah Islamiyyah. Perjuangan yang tidak bersifat haraki adalah perjuangan yang tidak menepati contoh yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan cita-cita Islam tidak akan tercapai kalau kita hanya menyatakan bahawa Islam itu benar, indah dan sempurna tetapi kebenaran, keindahan dan kesempurnaan itu tidak kita jihadkan dan kita da'wahkan.
Taken From: UST NASARUDDIN MAT ISA